Select your Top Menu from wp menus

tahuberita.com

Repost dari http://tahuberita.com/gaya-hidup/sekolah-bebas-jadwal-di-jakarta/

 

Sekolah Bebas Jadwal di Jakarta

 

Jakarta (tahuberita.com): Shin Don-cheol, pendiri Tomato Art School, membebaskan para muridnya dari jadwal belajar-mengajar. Menurut Shin, yang terpenting muridnya tidak lupa berlatih meski tidak mengikuti kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

“Seminggu sekali gak papa. Tapi di rumah juga dia ingat dulu, dia latihan lagi,” ujar Shin kepada tahuberita.com, di Lotte Shopping Avenue, Kuningan, Jakarta, Minggu (26/3/2017), sebelum membuka acara “16th Exhibition TOMATO Art School Jakarta”.

Shin, yang berasal dari Korea Selatan itu, mengatakan bahwa banyak orang Indonesia punya antusias tinggi untuk belajar di Tomato Art School. Namun, mereka terkendala jarak dan transportasi.

“Mereka mau belajar, tapi sekolahnya jauh, mereka ada dari Cikarang, dari Lippo Karawaci,” jelas pria yang sudah 19 tahun di Indonesia itu. Hal itu jadi alasan Shin membebaskan para murid-muridnya tersebut untuk bebas menentukan jam masuk, meski harus tetap memperhatikan jam buka sekolah, yakni pukul 14.00 WIB dan tutup pada 20.00 WIB.

Para guru pun, jelas Shin, siap melakukan kegiatan belajar mengajar setiap harinya. “Waktunya bebas. Kadang-kadang (para muridnya) dua kali datang seminggu, kadang-kadang tiga kali datang seminggu,” jelas Shin.

Adapun Tomato Art School, pertama kali dibuka di Indonesia pada tahun 1998. Saat itu, Shin baru pertama kali datang ke Indonesia. Awal dibuka, sekolah seni itu hanya diperuntukkan bagi orang Korea. “Tapi sesudah 10 tahun… Saya sudah bisa bahasa (Indonesia). Bisa kasih tahu, teaching (mengajari) orang Indonesia juga,” jelasnya.

Tak lama, murid-murid yang hadir semakin bertambah hingga datang dari berbagai negara, seperti Jepang, Taiwan, Turki, Amerika, Perancis, dan Italia. “Macam-macam, jadi saya bisa kasih tahu internasional art,” ujar Shin. Ratusan murid-murid internasional itu, jelas Shin, banyak yang mendapatkan lisensi atas karyanya dan dijadikan portofolio untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Dalam proses belajar mengajar, Shin mengaku dibantu 10 guru asal Indonesia. “Saya cuman (sendiri) orang Korea,” ujarnya seraya tertawa. Kesepuluh guru itu pun sudah dilatih olehnya selama lebih dari lima tahun.

Adapun jumlah murid, sedikitnya 150-an anak untuk setiap tahunnya. Ratusan anak itu terbagi menjadi beberapa kelas mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). “Middle and high school beda. Jadi kelasnya beda, guru juga beda,” jelas pria 55 tahun ini.

Dalam proses pembelarajan, Shin juga membebaskan muridnya berkreasi sesuai imajinasi. Para murid hanya diberi bimbingan dan sisanya diserahkan ke murid itu sendiri agar mempunyai karakteristik masing-masing. “Kalau tree (pohon) bukan hijau bagaimana, orange bagaimana, gak masalah ya. Jadi saya pikir, teaching harus freedom,” kata Shin.

 

Pameran Tahunan

Shin pun memotivasi para muridnya dengan menggelar pameran setiap tahunnya. Pada Minggu (26/3/2017), ia resmi membuka pameran yang ke-16, dengan tajuk “16th Exhibition TOMATO Art School Jakarta” di Lotte Shoping Avenue, Kuningan, Jakarta Selatan. Pameran itu digelar selama seminggu, yang akan berakhir pada 2 April 2017 mendatang.

Menurut Shin, dengan adanya pameran ini, bukan tidak mungkin anak-anak muridnya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. “Nanti bisa jadi designer, nanti bisa jadi artis. Begitu,” ujar Shin berharap.

Adapun Tomato Art School, hanya ada satu di Indonesia, yakni di Jl. Darmawangsa Raya No.02 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Shin mengaku belum ingin menambah cabang lagi di tempat lain. “Ini saya sudah overworking,” kata Shin lalu tertawa.

Salah satu murid Tomato Art School, Ni Putu Indira Sasrika (9), mengaku senang belajar di sekolah seni tersebut. “Seru, terus guru-gurunya baik, kadang bisa ngobrol bareng gitu,” ujar Indira saat ditemui usai tampil menarikan Tari Panji Semirang asal Bali, sebagai pembuka pameran tersebut.

 

(Indira sedang menari Bali dalam Grand Opening Tomato Art School 16th Exhibition)

 

Indira, yang sudah 1 tahun bersekolah di Tomato Art School, menjelaskan bahwa fasilitas di sekolah seni ini lebih lengkap dari sekolah seni lainnya. “Idenya macem-macem. Jadi bisa kayak, aku bisa gambar, bisa bikin craft juga. Kalau di sana gak bisa bikin craft, cuman gambar sama clay doank dulu. Aku bosen. Terus gambarnya palingan sama-sama melulu,” kata Indira yang juga murid kelas 3 di SD Gemala Ananda, Jakarta.

Menurut pantauan tahuberita, terdapat puluhan lukisan karya murid-murid Tomato Art School yang dipamerkan dari kelas TK hingga SMA. Selain itu, juga ada hasil kerajinan tangan tiga dimensi yang terbuat dari clay, craft, besi, karton, kertas dan tanah liat.

 

Related posts